Di Negeri itu,
Sayup-sayup kabar terdengar pesan singkat,
"Dua ekor singa itu telah merajalela kuasai Negeri.
Mereka terlepas dua hari yang lalu dari kandang Mereka saat semua sibuk urusi perut-perut kosong"
Sungguh, ini Pesan singkat dari Negeri singa,
Negeri kecil lagi Elok, Pesan ini tertuju kepada Orang-orang Lugu di semua penjuru
Selasa, 13 April 2010
KITA BUKAN PENONTON
Lelah angin menghimbau haru di perbatasan
Puluhan tahun silam bak prasasti tertanam duka tak terungkap
Air mengalir dari celah-celah mata kosong
Darah syuhada mewangi selimuti jantung Palestina
Disisi lain Para pemilik syahadat di pojok keyakinan
Ramai-ramai sorakan haru dan membisik tak berdaya
Sesekali Mereka duduk bersila rupawan manisnya
Menyaksikan isi perut memburai hiasi kiblat pertama juanan mulia
Dam Mereka membisik,
“ Janji Allah akan dating kelak, Kami akan setia menunggu janji Sang pencipta “
Prakata itu benar-benar terlontar tulus tanpa beban
Saut-saut dari perbatasan pun membisik tak berdaya,
“ Ana akhukum fillah”
“ Ana akhukum fillah”
“ Coba telusuri bayangan Ku di Negeri Mu… Ini jelas naskah yang diciptakan Nya
Dan memang janji Nya akan hadir, Tapi bukan untuk membuat Mu alfa akan tugas Mu.
Kita bukan penonton akan naskah yang di tulis Nya, tapi semua pemilik kiblat pertama akan terlibat memerankan nya”
( Bogor, 10 Maret 2010 )
Puluhan tahun silam bak prasasti tertanam duka tak terungkap
Air mengalir dari celah-celah mata kosong
Darah syuhada mewangi selimuti jantung Palestina
Disisi lain Para pemilik syahadat di pojok keyakinan
Ramai-ramai sorakan haru dan membisik tak berdaya
Sesekali Mereka duduk bersila rupawan manisnya
Menyaksikan isi perut memburai hiasi kiblat pertama juanan mulia
Dam Mereka membisik,
“ Janji Allah akan dating kelak, Kami akan setia menunggu janji Sang pencipta “
Prakata itu benar-benar terlontar tulus tanpa beban
Saut-saut dari perbatasan pun membisik tak berdaya,
“ Ana akhukum fillah”
“ Ana akhukum fillah”
“ Coba telusuri bayangan Ku di Negeri Mu… Ini jelas naskah yang diciptakan Nya
Dan memang janji Nya akan hadir, Tapi bukan untuk membuat Mu alfa akan tugas Mu.
Kita bukan penonton akan naskah yang di tulis Nya, tapi semua pemilik kiblat pertama akan terlibat memerankan nya”
( Bogor, 10 Maret 2010 )
MULUT LIAR DI TROTOAR
Pagi itu, di ujung Trotoar
Kau bisikan mesra di telinga ku,
“Apa yang kau utarakan wahai jemari dungu?, tak pantas rangkain aksaramu tersemat di ruang karya. Semua yang Kau utarankan absurd bagi Ku, sudahlah cepat Kau sebrangi trotoar ini lalu kembalilah ke pangkuan Ibumu”
Dengan mudah Kau utarakan itu pada ku, seolah tak ada beban di rongga-rongga mulut liarmu
Raga Ku kaku memucat, seolah jemari terserang virus yang berasal dari mulut liarmu
Beberapa menit berlalu,
Kau masih dalam posisimu yang angkuh
Membuat darah menekan Rongga-rongga mulutKu, seloh memaksa melontar kata
“Sungguh, Ku benari bahwa karyaku tak pantas tersemat di ruang karya. Tapi Aku mohon jaga Mulut liarmu, jangan sampai terlepas dari kandang kewajaran. Aku terima semua, aku akan sebrangi dan kembali ke pangkuan Ibuku. Aku kira itu lebih baik bagiKu”
Susana terhentak,
Trotoar itu telah mengajarkan ku banyak hal, Termasuk cara menghadapi mulut liar.
Ini memang zona keras...............
biarkan aku pergi, jemari ku masih mampu bergerak di ruas jalan yang lain
(Panaragan, 29 Maret 2010)
Kau bisikan mesra di telinga ku,
“Apa yang kau utarakan wahai jemari dungu?, tak pantas rangkain aksaramu tersemat di ruang karya. Semua yang Kau utarankan absurd bagi Ku, sudahlah cepat Kau sebrangi trotoar ini lalu kembalilah ke pangkuan Ibumu”
Dengan mudah Kau utarakan itu pada ku, seolah tak ada beban di rongga-rongga mulut liarmu
Raga Ku kaku memucat, seolah jemari terserang virus yang berasal dari mulut liarmu
Beberapa menit berlalu,
Kau masih dalam posisimu yang angkuh
Membuat darah menekan Rongga-rongga mulutKu, seloh memaksa melontar kata
“Sungguh, Ku benari bahwa karyaku tak pantas tersemat di ruang karya. Tapi Aku mohon jaga Mulut liarmu, jangan sampai terlepas dari kandang kewajaran. Aku terima semua, aku akan sebrangi dan kembali ke pangkuan Ibuku. Aku kira itu lebih baik bagiKu”
Susana terhentak,
Trotoar itu telah mengajarkan ku banyak hal, Termasuk cara menghadapi mulut liar.
Ini memang zona keras...............
biarkan aku pergi, jemari ku masih mampu bergerak di ruas jalan yang lain
(Panaragan, 29 Maret 2010)
MULUT LIAR DI TROTOAR
Pagi itu, di ujung Trotoar
Kau bisikan mesra di telinga ku,
“Apa yang kau utarakan wahai jemari dungu?, tak pantas rangkain aksaramu tersemat di ruang karya. Semua yang Kau utarankan absurd bagi Ku, sudahlah cepat Kau sebrangi trotoar ini lalu kembalilah ke pangkuan Ibumu”
Dengan mudah Kau utarakan itu pada ku, seolah tak ada beban di rongga-rongga mulut liarmu
Raga Ku kaku memucat, seolah jemari terserang virus yang berasal dari mulut liarmu
Beberapa menit berlalu,
Kau masih dalam posisimu yang angkuh
Membuat darah menekan Rongga-rongga mulutKu, seloh memaksa melontar kata
“Sungguh, Ku benari bahwa karyaku tak pantas tersemat di ruang karya. Tapi Aku mohon jaga Mulut liarmu, jangan sampai terlepas dari kandang kewajaran. Aku terima semua, aku akan sebrangi dan kembali ke pangkuan Ibuku. Aku kira itu lebih baik bagiKu”
Susana terhentak,
Trotoar itu telah mengajarkan ku banyak hal, Termasuk cara menghadapi mulut liar.
Ini memang zona keras...............
biarkan aku pergi, jemari ku masih mampu bergerak di ruas jalan yang lain
(Panaragan, 29 Maret 2010)
Kau bisikan mesra di telinga ku,
“Apa yang kau utarakan wahai jemari dungu?, tak pantas rangkain aksaramu tersemat di ruang karya. Semua yang Kau utarankan absurd bagi Ku, sudahlah cepat Kau sebrangi trotoar ini lalu kembalilah ke pangkuan Ibumu”
Dengan mudah Kau utarakan itu pada ku, seolah tak ada beban di rongga-rongga mulut liarmu
Raga Ku kaku memucat, seolah jemari terserang virus yang berasal dari mulut liarmu
Beberapa menit berlalu,
Kau masih dalam posisimu yang angkuh
Membuat darah menekan Rongga-rongga mulutKu, seloh memaksa melontar kata
“Sungguh, Ku benari bahwa karyaku tak pantas tersemat di ruang karya. Tapi Aku mohon jaga Mulut liarmu, jangan sampai terlepas dari kandang kewajaran. Aku terima semua, aku akan sebrangi dan kembali ke pangkuan Ibuku. Aku kira itu lebih baik bagiKu”
Susana terhentak,
Trotoar itu telah mengajarkan ku banyak hal, Termasuk cara menghadapi mulut liar.
Ini memang zona keras...............
biarkan aku pergi, jemari ku masih mampu bergerak di ruas jalan yang lain
(Panaragan, 29 Maret 2010)
BACA SELENGKAPNYA
Penatnya hari ini,
Hingga nahkoda raga terkapar di atas meja redaksi, tak mapu lagi tegak
Mungkin karena naskah-naskah yang membebani bejana raga,
Biarlah, beri Ia sedikit jeda untuk mengembalikan fungsi nahkodanya yang sempat terputus
Biarlah Ia beristirahat, hingga matahari membangunkannya.....
Jika kau Iba padanya, bacalah lembaran naskahnya hingga tuntas
Agar kau mengerti betapa lelah jemari mengiringi pena menari,
Agar kau mengerti betapa besar usahanya merajut naskah itu
Agar kau mengerti Ia berarti pada kemajuanmu, bangsa, juga Mereka
Dan tinggalkanlah lembaran itu, Jika tak lagi mampu menggugah hatimu,,,
Jika Kau lihat lagi naskahnya,,
Bacalah selengkapnya
Agar Kau mengerti,
(Panaragan, 29 maret 2010)
Hingga nahkoda raga terkapar di atas meja redaksi, tak mapu lagi tegak
Mungkin karena naskah-naskah yang membebani bejana raga,
Biarlah, beri Ia sedikit jeda untuk mengembalikan fungsi nahkodanya yang sempat terputus
Biarlah Ia beristirahat, hingga matahari membangunkannya.....
Jika kau Iba padanya, bacalah lembaran naskahnya hingga tuntas
Agar kau mengerti betapa lelah jemari mengiringi pena menari,
Agar kau mengerti betapa besar usahanya merajut naskah itu
Agar kau mengerti Ia berarti pada kemajuanmu, bangsa, juga Mereka
Dan tinggalkanlah lembaran itu, Jika tak lagi mampu menggugah hatimu,,,
Jika Kau lihat lagi naskahnya,,
Bacalah selengkapnya
Agar Kau mengerti,
(Panaragan, 29 maret 2010)
KU LETAKKAN RAGU DI HALAMAN-MU
Di hari ini, tepat pada halaman-Mu
Izinkan Hamba menguntai rintihan yang selama ini menggumam di bilik hati
Walau sebenarnya Hamba tak mapu membentang semua di hadapan-Mu,
Sungguh tak berperi rasa malu hamba, ketika peri-peri di semua sisi tertawa mengejek hamba
Tak lain karena corak hitam yang membaur pada senyawa kesucian yang nista begitu saja
Padahal hamba paham betul cara memelihara senyawa itu, termasuk yang di ajarkan semua nyawa yang hamba temukan di pojok-pojok kesukaraan, bahkan lebih dari itu..
Mungkin ini tayangan yang sering kali orang-rang lihat
Tapi aneh, ketika saat aku yang menyelaminya. Sungguh berbeda hasilnya,
Ini membuatku bersilat dengan teka-teki yang di sugguhkan kepada ku
Sering kali akal bodoh menyelusup masuk merampas akal sehat, Sungguh ku tak mengerti.
Disinlah, di halaman kepunyaan-Mu
Aku menekuk lututku yang memucat, seiring hela nafas yang tak kunjung berfungsi normal
Sungguh Aku menyadari bahwa semua yang sukar datang dari kepala ku, bukan karena-Mu
Sungguh telah lama Aku meyakini bahwa corak hitam itu datang karena karang kesucian yang bolong, itu pun buah tangan ku.
Tapi, faktanya Aku tak dapat mengungkap semua...
Aku tahu hari ini panas, tapi sungguh aku tak mengerti mengapa panas itu datang hari ini.
Aku tahu hari ini dingin, tapi sungguh aku tak mengerti mengapa dingin itu datang hari ini.
Begitulah aku menggambarkan resah Ku,,,
Rasanya tak kuat hamba menahan malu di hadapan-Mu
Atas kegagalan hamba dalam misi menaklukan apa yang hamba tak mengerti,
Sungguh, Kaulah nama yang pantas memiliki semua dari raga ku
Karena semua terlahir dari tangan kuasa-Mu,
Dan disinlah, hamba serahkan kuasa raga hamba atas seuntai teka-teki yang tak kunjung usai..
Tapi bukan artinya hamba tinggalkan kata “Iman, berserah diri, ikhtiar” yang selama ini hamba pahat pada bilik-bilik hati yang kian rapuh dengan ketidak pahaman hamba akan semua yang tak terungkap.
Di sinilah,
Di halman-Mu hamba serahkan keraguan dan kesukaran,
Terima kasih atas kesetian-Mu..
…...........................................
(Panaragan, 30 Maret 2010)
Izinkan Hamba menguntai rintihan yang selama ini menggumam di bilik hati
Walau sebenarnya Hamba tak mapu membentang semua di hadapan-Mu,
Sungguh tak berperi rasa malu hamba, ketika peri-peri di semua sisi tertawa mengejek hamba
Tak lain karena corak hitam yang membaur pada senyawa kesucian yang nista begitu saja
Padahal hamba paham betul cara memelihara senyawa itu, termasuk yang di ajarkan semua nyawa yang hamba temukan di pojok-pojok kesukaraan, bahkan lebih dari itu..
Mungkin ini tayangan yang sering kali orang-rang lihat
Tapi aneh, ketika saat aku yang menyelaminya. Sungguh berbeda hasilnya,
Ini membuatku bersilat dengan teka-teki yang di sugguhkan kepada ku
Sering kali akal bodoh menyelusup masuk merampas akal sehat, Sungguh ku tak mengerti.
Disinlah, di halaman kepunyaan-Mu
Aku menekuk lututku yang memucat, seiring hela nafas yang tak kunjung berfungsi normal
Sungguh Aku menyadari bahwa semua yang sukar datang dari kepala ku, bukan karena-Mu
Sungguh telah lama Aku meyakini bahwa corak hitam itu datang karena karang kesucian yang bolong, itu pun buah tangan ku.
Tapi, faktanya Aku tak dapat mengungkap semua...
Aku tahu hari ini panas, tapi sungguh aku tak mengerti mengapa panas itu datang hari ini.
Aku tahu hari ini dingin, tapi sungguh aku tak mengerti mengapa dingin itu datang hari ini.
Begitulah aku menggambarkan resah Ku,,,
Rasanya tak kuat hamba menahan malu di hadapan-Mu
Atas kegagalan hamba dalam misi menaklukan apa yang hamba tak mengerti,
Sungguh, Kaulah nama yang pantas memiliki semua dari raga ku
Karena semua terlahir dari tangan kuasa-Mu,
Dan disinlah, hamba serahkan kuasa raga hamba atas seuntai teka-teki yang tak kunjung usai..
Tapi bukan artinya hamba tinggalkan kata “Iman, berserah diri, ikhtiar” yang selama ini hamba pahat pada bilik-bilik hati yang kian rapuh dengan ketidak pahaman hamba akan semua yang tak terungkap.
Di sinilah,
Di halman-Mu hamba serahkan keraguan dan kesukaran,
Terima kasih atas kesetian-Mu..
….........................
(Panaragan, 30 Maret 2010)
CERITA LAMA UNTUK SUDIARY
:Untuk orang yang telah menanam pohon di halaman rumahku
Sudiary,
Dulu, Aku hanya pujangga yang tak kuasa hidup di ruang karya. Ruangnya para pujangga hebat
Dulu, Aku hanya bisa berlisan dari pintu ke pintu untuk mengajak orang-orang agar ikut serta membakar jwaku yang mulai rapuh di grogoti mulut liar di pinggir trotoar.
Dulu, Aku sering menjelma menjadi anak sekolah dasar disaat membaca karya-karya jemariku yang nampak kumuh dengan debu-debu jalanan.
Dulu, sesekaliku melepas pena sejenakdari genggamanku, bermaksud untuk merentangkan jemari yang kaku dan mengeringkan air lelah yang membasahi telapak tangan seakan lembab dibuatnya.
Tapi, suatu remang di persimpangan jalan.
Masihkah Kau ingat?
Sat itu Kau membawa secangkir the hangat, sambil tersenyum Kau membisik disela gendang telingaku
“ Wahai pujangga, terima kasih atas semua karya yang Kau kirim ke halaman rumahku. Kau telah mengukir sebuah jalan menuju sebuah ruang yang kau tuju selama ini. Genggamlah akrab pena itu, tetaplah diruang karya. Yakinlah karyamu pasti bisa mengembangkan senyum bagi penghuni ruang itu. jikalau kau tak yakin, bagaimana dengan orang lain??semua yang kau rasa bermula darimu. Minumlah the hangat ini, semoga bisa meredakan dahaga”
Sungguh, Aku terkejut. Ini pertama kali Kau lakukan
Sekejap saja, apa yang Kau lontarkan langsung membaur pada lubuk dalam dada
Lalu terucaplah sepatah kata pada lisan,
“Baiklah Sudiary, Hari sudah petang. Puisi ini akan ku lanjutkan esok hari, dan Kau kembalilah ke rumahmu sebelum gelap tiba.”
Kau pun mengajak kaki kecilmu pergi,
Ini memang cerita lama, jauh sebelum jemari bangkit kembali
Tapi ini telah tepatri di lubuk dalam dadaku,
Terima kasih atas perananmu dalam secarik kisah yang menggugat hati dalam hidupku.
Sudiary,
Dulu, Aku hanya pujangga yang tak kuasa hidup di ruang karya. Ruangnya para pujangga hebat
Dulu, Aku hanya bisa berlisan dari pintu ke pintu untuk mengajak orang-orang agar ikut serta membakar jwaku yang mulai rapuh di grogoti mulut liar di pinggir trotoar.
Dulu, Aku sering menjelma menjadi anak sekolah dasar disaat membaca karya-karya jemariku yang nampak kumuh dengan debu-debu jalanan.
Dulu, sesekaliku melepas pena sejenakdari genggamanku, bermaksud untuk merentangkan jemari yang kaku dan mengeringkan air lelah yang membasahi telapak tangan seakan lembab dibuatnya.
Tapi, suatu remang di persimpangan jalan.
Masihkah Kau ingat?
Sat itu Kau membawa secangkir the hangat, sambil tersenyum Kau membisik disela gendang telingaku
“ Wahai pujangga, terima kasih atas semua karya yang Kau kirim ke halaman rumahku. Kau telah mengukir sebuah jalan menuju sebuah ruang yang kau tuju selama ini. Genggamlah akrab pena itu, tetaplah diruang karya. Yakinlah karyamu pasti bisa mengembangkan senyum bagi penghuni ruang itu. jikalau kau tak yakin, bagaimana dengan orang lain??semua yang kau rasa bermula darimu. Minumlah the hangat ini, semoga bisa meredakan dahaga”
Sungguh, Aku terkejut. Ini pertama kali Kau lakukan
Sekejap saja, apa yang Kau lontarkan langsung membaur pada lubuk dalam dada
Lalu terucaplah sepatah kata pada lisan,
“Baiklah Sudiary, Hari sudah petang. Puisi ini akan ku lanjutkan esok hari, dan Kau kembalilah ke rumahmu sebelum gelap tiba.”
Kau pun mengajak kaki kecilmu pergi,
Ini memang cerita lama, jauh sebelum jemari bangkit kembali
Tapi ini telah tepatri di lubuk dalam dadaku,
Terima kasih atas perananmu dalam secarik kisah yang menggugat hati dalam hidupku.
Langganan:
Postingan (Atom)