Selasa, 13 April 2010

KITA BUKAN PENONTON

Lelah angin menghimbau haru di perbatasan
Puluhan tahun silam bak prasasti tertanam duka tak terungkap
Air mengalir dari celah-celah mata kosong
Darah syuhada mewangi selimuti jantung Palestina


Disisi lain Para pemilik syahadat di pojok keyakinan
Ramai-ramai sorakan haru dan membisik tak berdaya
Sesekali Mereka duduk bersila rupawan manisnya
Menyaksikan isi perut memburai hiasi kiblat pertama juanan mulia
Dam Mereka membisik,
“ Janji Allah akan dating kelak, Kami akan setia menunggu janji Sang pencipta “



Prakata itu benar-benar terlontar tulus tanpa beban
Saut-saut dari perbatasan pun membisik tak berdaya,
“ Ana akhukum fillah”
“ Ana akhukum fillah”
“ Coba telusuri bayangan Ku di Negeri Mu… Ini jelas naskah yang diciptakan Nya
Dan memang janji Nya akan hadir, Tapi bukan untuk membuat Mu alfa akan tugas Mu.
Kita bukan penonton akan naskah yang di tulis Nya, tapi semua pemilik kiblat pertama akan terlibat memerankan nya”




( Bogor, 10 Maret 2010 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar